INFORMASIMERAHPUTIH.com | Bekasi | Peringatan Maulidurrasul 1447 Hijriyah tahun ini dinilai memiliki makna istimewa. Tokoh masyarakat, Holil, menegaskan bahwa peringatan Maulid kali ini bertepatan dengan 1.500 tahun sejak kelahiran Nabi Muhammad SAW, sebuah momentum yang harus dimaknai lebih dalam oleh umat Islam.
Holil menjelaskan, perhitungan ini didasarkan pada usia Nabi Muhammad SAW ketika berhijrah, yakni 53 tahun. Jika usia itu ditambahkan dengan tahun hijriah saat ini, 1447 H, maka jumlahnya tepat 1500.
“Tidak banyak dari kita yang menyadari, jarak dari Maulid Nabi tahun ini dengan masa kelahiran Nabi SAW adalah tepat seribu lima ratus tahun. Tahun ini 1447, ditambah usia Nabi SAW ketika berhijrah, 53 tahun, sehingga 1447 + 53 = 1500,” ujar Holil, Sabtu (6/9/2025).
Lebih lanjut, Holil menekankan bahwa meski telah berlalu lebih dari 15 abad, Nabi Muhammad SAW tetap menjadi sosok yang paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia. Bahkan hingga kini, nama beliau terus disebut dalam doa dan ibadah umat Islam.
“Coba kita renungkan. Manusia mana yang hari kelahirannya masih diperingati meski sudah lewat 1.500 tahun? Dan manusia mana yang namanya disebut oleh lebih dari dua miliar orang setiap hari? Itu bukti nyata kebenaran janji Allah, wa rafa‘na laka dzikrak (Kami tinggikan sebutanmu),” tegasnya.
Holil juga menyinggung kondisi dunia saat ini yang sarat dengan konflik, diskriminasi, dan ketidakadilan. Ia menilai, momentum Maulid Nabi harus dijadikan titik balik untuk memperkokoh ukhuwah Islamiyah.
“Persatuan umat bukan hanya kebutuhan rohani, tetapi juga kekuatan sosial-politik. Kita menghadapi tantangan besar, mulai dari konflik antarbangsa hingga krisis kemanusiaan. Jika umat Islam tercerai-berai, maka kita akan lemah. Tetapi jika bersatu, kita bisa menghadapi apa pun,” ujarnya.
Holil mengajak umat Islam untuk tidak berhenti pada seremonial Maulid semata. Menurutnya, yang lebih penting adalah meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menyelesaikan persoalan sosial dan menjaga persaudaraan lintas bangsa.
“Maulid bukan hanya tentang perayaan. Ini tentang bagaimana kita mencontoh Rasulullah: jujur, sederhana, penuh kasih sayang, sekaligus tegas dalam menegakkan kebenaran. Itulah yang harus kita hidupkan kembali di tengah tantangan zaman,” kata Holil menutup pernyataannya.
Peringatan Maulidurrasul 1447 H sendiri berlangsung di berbagai belahan dunia dengan ragam tradisi, mulai dari pengajian, pembacaan shalawat, tabligh akbar, hingga kajian sejarah Islam. Meski berbeda bentuk, semangat yang diusung tetap sama: menghidupkan kembali kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. (Red).
